Dimanakah cinta itu berada? Bila ia berada di hati, kenapa hanya karena jarak dan waktu, dia begitu tega meninggalkan dan menghancurkan semua mimpi di hati? Tak bisakah dia menunggu, meski untuk sedetik lamanya? Tak bisakah dia menahan rindu, menanti sebuah pertemuan yang akan terjadi?
Masih jelas di pelupuk mata saat dia pergi, dengan hanya meninggalkan sebait puisi :

“Dunia khayal yang kita lalui bersama, telah menjadi saksi atas kisah kita yang bersemi tanpa pamrih.Ikrar kita tersirat dalam surat. Cinta, sayang, dan pengertian tidak kunjung tumbuh seiring perjalanan sang waktu, juga jarak yang memisahkan.mungkin aku adalah dewi dunia khayal, yang selalu berkhayal untuk menemukan dirimu, wahai pria tak berwujud.Bait demi bait puisi diriku dihembuskan oleh angin, diterpa badai dihantam gelombang. Tapi tetap sampai pada hati kita masing-masing. Dibingkai indah oleh tulusnya jiwa, disinari hangatnya pancaran rasa tulus”

Dimana engkau, wahai sang kekasih hati? Aku akan selalu menunggumu?