You are currently browsing the category archive for the 'Suatu Ketika' category.
Untuk seorang kekasih yang telah hilang dan pergi, semoga engkau tahu kalau aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu. Dan bukan satu rahasia lagi, bila aku akan selalu memujamu dalam hening malam, memujimu saat pagi datang dan selalu mengagumi disaat senja menjemput malam, meski itu semua hanya di hati, tanpa pernah lagi bisa kuucapkan langsung padamu.
Kenapa engkau harus pergi? Padahal masih tersimpan ribuan harapan dan cinta di hati ini, untukmu.
Perasaan Ini Sama
Menyatu Dalam Darah
Namun Tak Ikut Keluar Bersama Hembusan Nafas
Jika Dia Tahu
Isi Hati Dari Seorang Aku
Yang Begitu Inginkannya
Duniaku Jauh
Jauh Dari Dunianya
Puisi Tak Bermakna
Dibanding Harga Diri
Dapat Kupastikan
Sekarang Dia Membenciku
Apa Diri Ini Begitu Rendahnya
Kurasa Memang Begitu
Jalan Yang Ku Tempuh Selama Ini
Mungkin Tak Berujung
Dalam Lisan Ku Ungkap
Aku Akan Melupakannya
Tapi Tak Begitu Dalam Hati
Hati Yang Telah Lama Mendambanya
Haruskah Aku Bohong
Bohong Pada Diriku Sendiri
Bahwa Aku Begitu Mencintainya
Walaupun Aku Telah Jadi Milik Orang Lain
Untuk seorang kekasih yang telah pergi, “Biarkanlah Cinta Tak Berbalas”
Waktu, waktu dan demi waktu, bila engkau memberikan sedikit waktu untukku, aku berjanji akan aku buktikan betapa besar dan sucinya cintaku padamu. Akan aku tunjukkan padamu, betapa indahnya cinta, bila kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai.
Aku bisa menjadi apapun yang engkau mau, aku bisa menjadi orang yang ada dalam setiap bait puisimu, akupun bisa menjadi bintang yang selalu kau khayalkan dalam setiap kata-katamu, dalam setiap syairmu dan dalam setiap doamu :
“Aku ingin ada bintang yang sepaham denganku yang bisa membuka hatiku menyadarkanku bahwa hidup ini indah, meluruskan aku jika aku keliru, menegurku jika aku egois, memakiku jika aku terlalu. Menyanjungku jika aku perlu, memelukku saat aku sedih, tersenyum saat aku bahagia, dewasa saat aku manja dan paham bahwa aku hanya bisa menulis isi hati tanpa bisa mengungkapkannya. Jujur akan masalah yang dihadapinya, sabar akan segala sifat burukku. Terjaga disaat aku terlelap, mengoceh disaat aku membisu, menerima kenyataan apa adanya diriku, dan selalu ada disaat aku memerlukannya. Itu yang aku perlu , dan aku akan berusaha untuk menjadi bintang terindah dalam hidupnya”
Aku bisa menjadi apapun untukmu, asal engkau yakin bahwa aku benar-benar mencintai dan menyayangimu.
Tapi….. kenapa engkau harus pergi? Kenapa engkau harus pergi dan meragukan cintaku? Kenapa engkau tak memberikan aku waktu, untuk membuktikan semua cinta di hati ini, untukmu?
Entah, dalam keheningan malam, aku selalu heran, bintang saja selalu setia menemani malam dan malam pun selalu setia menggantikan siang, tapi kenapa sebuah janji yang pernah terucapkan olehnya, hanya menjadi sebait puisi yang kadang tak ada arti dalam hidup ini.
Dimanakah janjinya? Dimanakah dia berada? Masihkah dia ingat akan semua janjinya?
“Seribu purnama yang datang menjemput tidak pernah membuat senjaku terpaut begitupun sajakku yang tidak pernah surut memujamu dalam setiap goresan tintanya biar pagi menenggelamkan malam hingga lazuardi dalam tahta sempurna, biar masa menenggelamkan dunia tapi cinta ku tak mampu ditenggelamkan doaku atas cinta kita akan setia hadir dalam setiap goresan pena, dalam puisi cintaku dan ciptakan kisah ini pada setiap cerita hati yang paham atas arti cinta sejati kepada cerita hati, untukmu aku cinta”
Kenapa engkau harus berjanji, bila untuk diingkari?
