You are currently browsing the tag archive for the 'Buku Harian' tag.
Waktu, waktu dan demi waktu, bila engkau memberikan sedikit waktu untukku, aku berjanji akan aku buktikan betapa besar dan sucinya cintaku padamu. Akan aku tunjukkan padamu, betapa indahnya cinta, bila kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai.
Aku bisa menjadi apapun yang engkau mau, aku bisa menjadi orang yang ada dalam setiap bait puisimu, akupun bisa menjadi bintang yang selalu kau khayalkan dalam setiap kata-katamu, dalam setiap syairmu dan dalam setiap doamu :
“Aku ingin ada bintang yang sepaham denganku yang bisa membuka hatiku menyadarkanku bahwa hidup ini indah, meluruskan aku jika aku keliru, menegurku jika aku egois, memakiku jika aku terlalu. Menyanjungku jika aku perlu, memelukku saat aku sedih, tersenyum saat aku bahagia, dewasa saat aku manja dan paham bahwa aku hanya bisa menulis isi hati tanpa bisa mengungkapkannya. Jujur akan masalah yang dihadapinya, sabar akan segala sifat burukku. Terjaga disaat aku terlelap, mengoceh disaat aku membisu, menerima kenyataan apa adanya diriku, dan selalu ada disaat aku memerlukannya. Itu yang aku perlu , dan aku akan berusaha untuk menjadi bintang terindah dalam hidupnya”
Aku bisa menjadi apapun untukmu, asal engkau yakin bahwa aku benar-benar mencintai dan menyayangimu.
Tapi….. kenapa engkau harus pergi? Kenapa engkau harus pergi dan meragukan cintaku? Kenapa engkau tak memberikan aku waktu, untuk membuktikan semua cinta di hati ini, untukmu?
Entah, dalam keheningan malam, aku selalu heran, bintang saja selalu setia menemani malam dan malam pun selalu setia menggantikan siang, tapi kenapa sebuah janji yang pernah terucapkan olehnya, hanya menjadi sebait puisi yang kadang tak ada arti dalam hidup ini.
Dimanakah janjinya? Dimanakah dia berada? Masihkah dia ingat akan semua janjinya?
“Seribu purnama yang datang menjemput tidak pernah membuat senjaku terpaut begitupun sajakku yang tidak pernah surut memujamu dalam setiap goresan tintanya biar pagi menenggelamkan malam hingga lazuardi dalam tahta sempurna, biar masa menenggelamkan dunia tapi cinta ku tak mampu ditenggelamkan doaku atas cinta kita akan setia hadir dalam setiap goresan pena, dalam puisi cintaku dan ciptakan kisah ini pada setiap cerita hati yang paham atas arti cinta sejati kepada cerita hati, untukmu aku cinta”
Kenapa engkau harus berjanji, bila untuk diingkari?
Dimanakah cinta itu berada? Bila ia berada di hati, kenapa hanya karena jarak dan waktu, dia begitu tega meninggalkan dan menghancurkan semua mimpi di hati? Tak bisakah dia menunggu, meski untuk sedetik lamanya? Tak bisakah dia menahan rindu, menanti sebuah pertemuan yang akan terjadi?
Masih jelas di pelupuk mata saat dia pergi, dengan hanya meninggalkan sebait puisi :
“Dunia khayal yang kita lalui bersama, telah menjadi saksi atas kisah kita yang bersemi tanpa pamrih.Ikrar kita tersirat dalam surat. Cinta, sayang, dan pengertian tidak kunjung tumbuh seiring perjalanan sang waktu, juga jarak yang memisahkan.mungkin aku adalah dewi dunia khayal, yang selalu berkhayal untuk menemukan dirimu, wahai pria tak berwujud.Bait demi bait puisi diriku dihembuskan oleh angin, diterpa badai dihantam gelombang. Tapi tetap sampai pada hati kita masing-masing. Dibingkai indah oleh tulusnya jiwa, disinari hangatnya pancaran rasa tulus”
Dimana engkau, wahai sang kekasih hati? Aku akan selalu menunggumu?
